Ini referat saraf anakku. Semoga berguna bagi yang membacanya. Singkatnya untuk membuat anak kita sukses bukan tergantung dari kinan atau kidalnya. Anak kidal juga bisa sukses lho!
LATERALISASI & HANDEDNESS PendahuluanHandedness sering dipandang sebagai suatu hal yang sama dengan lateralisasi. Padahal secara umum handedness hanya merupakan bagian dari lateralisasi. Oleh karena itu dalam referat kecil ini sebelum membahas mengenai handedness, akan sedikit dibahas mengenai lateralisasi dan terminologi lain yang berhubungan dengan handedness. Walaupun masih terdapat misteri yang besar mengenai pengaturan sistem motorik tubuh kita, namun telah diketahui bahwa masing-masing hemisfer otak kita mengatur gerak motorik sisi kontralateral tubuh. Dengan demikian hemisfer kiri akan mengatur sistem motorik ekstremitas kanan, dan sebaliknya. Hal ini bukan saja terjadi pada manusia, namun dari pengamatan ahli juga terdapat pada primata. Dominansi hemisfer bukan saja berpengaruh pada sistem motorik, tapi juga bahasa. Hemisfer kiri yang umumnya disebut hemisfer yang dominan terhadap fungsi bahasa dan hemisfer kanan adalah hemisfer yang non dominan, ternyata didukung dengan struktur anatominya, yaitu regio wicara anterior (pars operkularis dan pars triangularis dari lobus frontalis inferior) dan planum temporale kiri jauh lebih besar dibandingkan kanan.Dengan semakin majunya ilmu neurologi perkembangan, pengetahuan dan pemahaman mengenai lateralisasi dan handedness juga semakin meningkat, baik pada kalangan ahli neurologi sendiri maupun pada praktisi pendidikan. Handedness juga dihubungkan dengan beberapa kelainan perkembangan sehingga penting kiranya bagi kita untuk mengetahui lebih jauh mengenai handedness ini. Lateralisasi
Lateralisasi didefinisikan sebagai perkembangan dominansi antara bagian tubuh kanan dan kiri (mata, telinga, tangan dan tungkai) serta perkembangan dari pusat-pusat khusus dan fungsi dari hemisfer otak kanan dan kiri. Teori lateralisasi dikembangkan oleh pemenang hadiah Nobel yaitu Roger Sperry dan Robert Ornstein, yang membuka mata dunia mengenai pengertian tentang perilaku, kepribadian, kreatifitas dan kemampuan untuk menggunakan cara berpikir tertentu dalam melakukan suatu tugas khusus.
Kebanyakan manusia memiliki dominansi serebral yang unilateral sifatnya, ini berarti umumnya seorang manusia mempunyai mata, telinga, tangan dan tungkai sisi tertentu yang dominan. Jadi normalnya manusia memiliki tungkai, mata dan telinga dominan yang sama sisinya dengan tangan dominannya. Namun keadaan ini tidak selalu terjadi, kadang-kadang ditemukan pula dominansi yang campuran sifatnya. Misalnya ada orang yang mendengar dengan telinga yang kanan, sedangkan untuk mata ia lebih menggunakan mata kirinya. Kurang lebih 20% dari populasi memiliki dominansi yang campuran (Mixed Laterality) antara kanan dan kiri. Mixed Laterality didefinisikan sebagai kecenderungan untuk melakukan beberapa tindakan dengan sisi tubuh kanan lainnya dengan sisi tubuh kiri, ataupun berpindah campur (shifting). Keragaman ini dapat menimbulkan kesulitan dalam aktifitas harian dan sulit diubah tanpa bantuan terapi dan kesadaran dari pribadi yang bersangkutan untuk berubah. Hal ini selanjutnya dapat berakibat pada gangguan persepsi, pengaturan dan tampilan dalam kehidupan sehari-hari. Jika seorang anak umur 7 tahun belum memiliki dominansi atau terdapat Mixed Laterality maka sulit timbul dominansi yang normal tanpa intervensi terapi.Gejala-gejala gangguan yang dapat dialami seorang anak dalam aktifitas harian yang berhubungan dengan kelainan lateralisasi antara lain:· Terlambat dalam memutuskan dominansi serebral· Sering salah dalam meletakkan dan menemukan barang-barang pribadi· Posisi tangan yang ekstrim dalam menulis dan membaca (rotasi yang berlebihan)· Kelainan posisi kepala saat menulis · Kesulitan dalam membedakan sisi kiri dan kanan dari huruf-huruf, benda dan anggota badan· Kecenderungan untuk bergerak ke arah tangan yang tidak dominan dalam aktifitas motorik· Pada aktifitas motorik yang menyilang garis tengah, ia harus memutar benda tersebut· Kesulitan dalam membuat keputusan· Kesulitan dalam menerima perubahan peraturan atau keputusan· Biasanya dalam olahraga akan mengalami kesulitan kecuali olahraga baseball dan kriket. Dominansi mata Perhatikan mata mana yang digunakan untuk mengintip, melihat di teropong ataupun dibuka saat berusaha memasukkan benang ke lubang jarum. Tes untuk menentukan dominansi mata/eyedness, antara lain:
|
· Buat lubang intip dari kedua tangan yang ditangkupkan membentuk segitiga. · Dengan kedua mata dibuka lihat satu objek melalui lubang tersebut. · Tutup mata kiri anda, jika objek tetap berada di tempatnya, mata yang dominan adalah mata kanan, jika objek tersebut bergerak dari posisi awalnya maka mata yang dominant adalah mata kiri. |
Eyedness sangat penting diketahui, terutama pada orang-orang yang melakukan kegiatan yang memerlukan presisi mata, misalnya atlet memanah dan menembak. Pada orang dengan rabun dekat kedua mata, biasanya mata yang dominan derajat myopinya lebih besar dibandingkan dengan mata yang lain. Dominansi okular juga menjadi prediktor kepuasan pasien pada tindakan operasi monovision, seperti operasi katarak dan operasi refraksi. Dominansi telingaPerhatikan sisi telinga mana yang digunakan untuk mendengar di telepon, untuk mendengarkan suara yang lembut seperti detak jam tangan. Pada umumnya manusia memiliki dominansi di hemisfer kiri dan telinga kanan untuk mendengarkan percakapan dan bahasa. Namun demikian juga dapat ditemukan dominansi hemisfer kanan dan telinga kiri, yang insidensinya berbeda-beda, yaitu:
- 4% pada orang kinan
- 15% pada orang ambidextrous
- 27% pada orang kidal.
Dalam proses belajar membutuhkan proses mendengar yang baik. Dr. Tomatis menemukan bahwa orang dengan telinga kanan dominan mempunyai kemampuan belajar yang lebih baik dibandingkan dengan orang dengan dominansi telinga kiri. Diterangkan bahwa telinga kanan langsung berhubungan dengan hemisfer kiri, hemisfer yang memproses bahasa. Jaras yang dilalui menjadi lebih pendek dan cepat, dibandingkan orang dengan dominansi telinga kiri, yang jarasnya menjadi lebih panjang akibat harus melewati corpus callosum lebih dahulu. Dominansi telinga juga mempengaruhi keadaan emosi (emotional well being). Tahun 1975, Badenhorst seorang peneliti menulis, orang dengan dominansi telinga kanan memiliki kapasitas yang lebih superior dalam merespon stimuli emosional secara spontan dan appropriate. Orientasi mereka lebih jelas, lebih responsif dalam mengkontrol respon emosi mereka. Mereka juga lebih kuat terhadap ansietas, frustasi dan rasa agresi. Dominansi tungkai (footedness) Perhatikan tungkai mana yang digunakan untuk menendang bola, naik ke atas kursi, menulis di atas pasir atau tungkai mana yang diletakkan di atas tungkai lain saat duduk (Leg crossing). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Reiss tahun 1994, leg crossing terbukti secara statistik berhubungan dengan handedness. Umumnya kebiasaan kebanyakan orang meletakkan tungkai kanan di atas tungkai kirinya saat duduk. Selain itu dominansi tungkai juga bisa ditentukan dari tungkai mana yang digunakan untuk menopang berat badan saat standing balance. Dominansi Otot Pengunyah dan LidahPerhatikan otot pengunyah dan lidah sisi mana yang lebih dominan digunakan dalam proses makan dan menelan. Dominansi Hidung (Nostril breathing) Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa manusia dalam bernafas lewat hidung juga memiliki dominansi. Jika seseorang lebih menggunakan hidung kanannya untuk bernafas akan merangsang hemisfer kiri, sedangkan jika bernafas dengan hidung kirinya akan merangsang hemisfer kanan otak. Handedness dan Lateralisasi Cerebral Handedness atau disebut juga dominansi tangan sering disebut juga Chirality. Sebagian besar orang menggunakan tangan kanannya untuk tugas-tugas yang mengharuskan penggunaan satu tangan seperti menulis, melempar bola, memukul palu, memotong, sebagian kecil ada juga yang menggunakan tangan kirinya, dan jumlah yang lebih kecil lagi menggunakan kedua tangannya sama baiknya, yang disebut ambidekstrous atau mixed handedness. Sebenarnya handedness terdiri dari 2 aspek yang terpisah yaitu proficiency dan preference. Proficiency berhubungan power (kekuatan otot) dan presisi (keterampilan) satu tangan dibandingkan dengan tangan lainnya. Preference/preferensi berhubungan dengan tangan mana yang digunakan ketika suatu aktifitas yang harus dilakukan oleh 1 tangan dibutuhkan. Preferensi inilah yang dinilai dalam suatu handedness inventory. [1] Kadang-kadang hal ini harus dibedakan karena pada kasus mixed handedness bisa jadi hal ini dipengarugi oleh komponen ini. [2]Salah satu definisi yang pernah diajukan mengenai handedness adalah yang diajukan oleh Rife tahun 1940. Ia mengatakan seseorang dikatakan kinan jika tangan kanan digunakan untuk melakukan 10 tugas yaitu:
- Melempar bola
- Menggunakan sendok
- Menggergaji
- Menjahit
- Bermain kelereng
- Bermain bowling
- Memotong dengan pisau
- Menggunting
- Memukul dengan palu
- Menulis
Jika salah satu atau lebih tugas di atas digunakan oleh tangan kiri, maka orang tersebut dapat digolongkan pada kidal ataupun ambidekstrous.[3] Aspek sejarah dan budaya Handedness Selama ribuan tahun, setan selalu digambarkan memegang tongkatnya dengan tangan kiri pada lukisan dirinya. Kiri selanjutnya dihubungkan dengan setan dan keburukan. Kiri atau dalam bahasa Inggris disebut ”Left”, berasal dari kata Anglo Saxon yaitu ”Lyft” yang berarti lemah atau tidak berguna. Dalam bahasa Inggris kidal disebut juga dengan Lefties, di Italia disebut Mancino, yang berarti tidak jujur. Sedangkan di dalam terminologi Latin disebut tidak beruntung. Terminologi umum di dunia terdapat pembagian golongan kanan dan golongan kiri. Kanan dihubungkan dengan sesuatu yang berhubungan dengan kebenaran, kebaikan, dan agama. Kiri disisi lain dihubungkan dengan kelicikan, kejahatan, oposisi dan atheis. Dalam banyak agama dan budaya di dunia tangan kanan dianggap lebih baik dibandingkan kiri, sering hal-hal baik dilakukan dengan tangan kanan, sedangkan hal-hal yang berhubungan dengan kotoran dilakukan dengan tangan kiri. Hal ini berakibat pada masyarakat dimana orangtua kurang suka jika anaknya ternyata kidal dan sering baik disadari maupun tidak menjuruskan anaknya untuk menganti dominansi tangannya ke tangan kanan. Salah satu orang kidal yang terkenal di dunia adalah Napoleon Bonaparte dan istrinya Josephine de Beauharnais, yang hidup lebih dari 200 tahun yang lampau. Karena Napoleon merupakan pemimpin Perancis, maka banyak aturan kidal yang diadaptasi oleh Perancis dan berefek pada negara bekas koloninya, yang berbeda dibandingkan dengan negara lainnya di dunia, seperti pada aturan di jalan raya dan sebagainya. Dari segi budaya, dipikirkan timbulnya dominansi tangan kanan disebabkan oleh kebiasaan di masa perang, seorang prajurit harus melindungi jantung yang ada di sisi tubuh sebelah kiri dengan tamengnya, dan tangan kanannya harus bebas memegang senjata. Oleh karena itu pada zaman dahulu dalam pertempuran satu lawan satu banyak prajurit yang kidal yang mengalami kematian. Saat ini di dunia barat kurang lebih 90% populasi dewasa termasuk right handed, sisanya 10% termasuk left handed, ambidekstrous ataupun yang ambiguously handed. Walaupun rasio 9:1 ini banyak dikutip oleh kepustakaan, namun penelitian yang ada saat ini menunjukkan angka kidal saat ini meningkat dibandingkan 1 abad yang lalu, dan memang rasio ini ternyata lebih rendah pada negara-negara non barat, seperti India dan Jepang, di mana rasio kinan dan kidal 5,4% dan 4,8%. [2] Genetika dan Anatomi Handedness serta hubungannya dengan kesehatan.
Banyak faktor yang dipercaya berhubungan dengan dominansi serebral antara lain genetik, jenis kelamin, umur, kadar testosteron, modelling, riwayat kelainan otak sebelumnya dan adjustment (penyesuaian diri). [4, 5]
1. Genetik. Angka prevalensi kidal sendiri yaitu 1 dari 10 orang, bagaimana hal itu terjadi dari segi genetik sendiri masih menjadi misteri. Jika kedua orangtua kidal maka 26% anaknya kemungkinan kidal. Sedangkan jika kedua orangtuanya kinan maka hanya 9% kemungkinan anaknya kidal. Lain halnya jika kedua orangtua berbeda handednessnya. Dominansi tangan ibu lebih berpengaruh terhadap handedness anak dibandingkan dengan handedness ayah.2. Jenis kelamin. Angka kidal lebih tinggi pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan.
3. Perkembangan janin dalam rahim. Geschwind, Behan dan Galaburda tahun 1980an memberikan hipotesis mengenai pengaruh kadar testosteron terhadap dominansi serebral. Normalnya menurut ketiga ahli di atas, hemisfer kiri akan lebih dahulu berkembang dibandingkan hemisfer kanan. Kadar testosteron yang tinggi selama perkembangan janin dalam rahim akan menghambat perkembangan hemisfer kiri relatif terhadap hemisfer kanan, sehingga akan menyebabkan hemisfer kanan menjadi lebih dominan dibandingkan hemisfer kiri. Dikatakan pula karena anak laki-laki memiliki kadar testosteron lebih tinggi dari pada anak perempuan, maka resiko kelainan dyslexia pun juga lebih tinggi pada anak laki-laki.[2, 6] Satu penelitian yang dilakukan di Belfast mengungkapkan bahwa preferensi tangan telah dapat dideteksi sejak seorang janin ada dalam rahim. Dr. Peter Hepper dan Fetal Behaviour Research Centre pada Universitas Queen menyimpulkan hal tersebut setelah melakukan penelitian Ultrasonografi pada 1000 janin. Beliau mengatakan dari hasil penelitian terungkap 10 dari 15 janin yang menghisap jempol kirinya menjadi anak kidal sedangkan 5 lainnya menjadi kinan. Sementara 60 janin yang menghisap jempol kanannya, setelah berusia 12 tahun semuanya kinan. [7]
4. Modelling. Anak-anak belajar menggunakan tangan dengan meniru dari orang tua, terutama ibu.
5. Kerusakan otak. Kerusakan otak dapat mengganggu proses dominansi hemisfer kiri sehingga membuat hemisfer kanan lebih dominant dibandingkan kiri.
6. Penyesuaian diri (Adjustment). Pada perkembangannya ada peneliti yang mempertanyakan apakah handedness merupakan suatu hasil proses adaptif suatu individu[12] Untuk merubah handedness dalam kepustakaan dikatakan orang kidal lebih mudah untuk mengganti dominansinya menjadi kinan, dikarenakan ia telah terbiasa untuk hidup di dunia yang memang didominasi oleh orang kinan dibandingkan sebaliknya. Namun pada keadaan tertentu dimana terjadi kondisi “terpaksa”, misalnya paska stroke ataupun amputasi, seseorang akan lebih mudah untuk mengganti dominansi tangannya.
Penelitian yang dilakukan oleh Sandra Witelson, seorang ahli neuro sains dari University McMaster, Canada mengungkapkan bahwa pada pemeriksaan post mortem orang kidal memiliki korpus kalosum yang lebih besar dibandingkan dengan orang kinan. Menurut New England Journal of Medicine, ibu yang hamil usia tua berkemungkinan lebih besar untuk memiliki anak kidal. Dikatakan ibu berusia 30 sampai 35 tahun memiliki kemungkinan 25% lebih besar untuk mendapatkan anak kidal. Tahun 2004 juga dilaporkan suatu penelitian bahwa adanya ansietas pada saat ibu hamil dapat mempengaruhi handedness anaknya kelak. Profesor Glover mengatakan meningkatnya ansietas pada usia 18 minggu gestasi berhubungan dengan peningkatan 20-30 % mixed handedness pada anak.[8]
Gangguan bicara seperti gagap dan dyslexia lebih banyak terdapat pada anak kidal. Diperkirakan suatu paksaan dalam merubah seorang kidal menjadi kinan dapat menyebabkan gagap/stuttering pada anak. Hal ini dialami oleh seorang raja yaitu King George VI dari Inggris (banyak anggota kerajaan Inggris memiliki dominansi kidal).
Seorang anak kidal dari penelitian mencapai pubertas lebih cepat 4 sampai 5 bulan lebih cepat dibandingkan dengan anak kinan. Angka kidal pada individu homoseksual 39% lebih banyak dibandingkan dengan orang heteroseksual. Ini konsisten baik pada lesbian maupun kaum gay. [9] Penelitian lain juga mengungkapkan anak kidal lebih rentan terhadap alergi dibandingkan dengan orang kinan. Angka schizophrenia juga tinggi ditemukan pada orang kidal. Hal ini berhubungan dengan asimetris morfologi otak yang berbeda dibandingkan populasi normal. Dilaporkan pasien Schizophrenia yang kidal mempunyai onset yang lebih muda dan gejala negatif yang lebih menonjol dibandingkan dengan pasien Schizophrenia kinan.[10, 11]
Penelitian mengenai hubungan antara pertumbuhan rambut (hair whorl) dengan handedness juga telah dilakukan dan makin menguatkan hipotesis pengaruh gen terhadap handedness ini. [3]
. Kognisi dan Handedness Kognisi dan handedness juga telah diteliti pada beberapa penelitian. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa angka kidal lebih sering ditemukan pada kelompok orang dewasa dengan kejang dan gangguan belajar. Pada orang dengan retardasi mental angka kidal juga lebih banyak ditemukan. Angka kidal juga dilaporkan lebih tinggi pada kelompok autis, dan disleksia.[2]
Namun di sisi lain, pada populasi IQ tinggi 20% anggotanya adalah orang kidal. Masih banyak yang belum diketahui mengenai kognisi dan handedness ini.[2]
Bahasa dan Handedness Paul Broca merupakan orang pertama yang menyadari bahwa ada hubungan antara handedness dan lateralisasi cerebral, serta hubungannya dengan pusat bahasa.[2] Pusat bahasa umumnya berada di hemisfer kiri namun dalam persentase kecil juga dapat berada di hemisfer kanan. Handedness telah lama dihubungkan dengan pusat bahasa.[13] Dengan tes sodium amytal dan data afasia selama ini, ditemukan bahwa 96% orang kinan mempunyai pusat bahasa di hemisfer kiri. Dalam beberapa penelitian orang kidal memiliki tiga kemungkinan dominansi bahasa (language dominance) yaitu di hemisfer kanan, hemisfer kiri ataupun campuran.. Menurut Rasmussen & Milner, serta Segalowitz & Bryden, pusat bahasa pada orang kidal bervariasi dalam populasinya, yaitu 60-70% di hemisfer kiri, 15-20% di hemisfer kanan dan 15-20% di kedua hemisfer.[1] Hal ini dibuktikan oleh Luria tahun 1976, bahwa pasien kidal yang mengalami afasia, lesi otaknya ada juga yang terjadi di hemisfer kiri. [4]Ada yang menghubungkan antara derajat kekidalan dengan kemungkinan dominansi pusat bahasa serebral [13] Penelitian lain mengatakan bahwa dominansi pusat bahasa di hemisfer kanan lebih sering ditemukan pada orang kidal dengan riwayat keluarga kidal.[14] Yang menarik adalah sebelumnya beberapa peneliti menduga bahwa posisi menulis pada orang kidal dapat menentukan hemisferium mana yang dominan terhadap bahasa. Apabila orang kidal menulis dengan posisi ”inversi” yaitu tangan terletak di atas garis tulisan, maka hemisferium yang dominan terhadap hahasa adalah ipsilateral (hemisferium kiri). Sedangkan bila posisi menulisnya non inversi yaitu tangan terletak di bawah garis tulisan, maka hemisferium yang dominan terhadap bahasa adalah kontralateral. Pernyataan ini telah dibantah oleh penelitian yang menggunakan tes Wada/sodium amytal. Mereka mengatakan posisi tangan hanyalah suatu adaptasi motorik dalam rangka membuat koordinasi visuomotorik dan bukan menunjukkan lateralisasi bahasa. ALAT UKUR HANDEDNESS/ HANDEDNESS INVENTORY
Sebagai alat ukur untuk menilai handedness, ada beberapa alat ukur yang selama ini ada, antara lain yang tersering digunakan adalah Edinburgh Handedness Inventory yang diciptakan oleh Oldfield pada tahun 1971, lalu ada pula yang diciptakan oleh Crovitz dan Zener tahun 1962, Raczkowski & Nebes tahun 1974, dan oleh Annett pada tahun 1970.[1, 15] Yang tergolong paling baru adalah Dutch Handedness Questionnaire yang diciptakan tahun 1988 oleh Van Strien merupakan kompilasi dari alat ukur handedness yang disebutkan di atas.[1]
BANTUAN UNTUK GANGGUAN HANDEDNESS Menurut Betty Winslow seorang penulis dan pengajar yang juga seorang kidal mengatakan bahwa seorang anak kidal sering mengalami gangguan belajar di sekolah. Hal ini disebabkan sarana dan kebiasaan yang ada dibuat untuk pelajar kinan.[16] Adapun gangguan dalam belajar yang dapat dialami oleh seorang anak kidal adalah:1. Tulisan yang jelek dan lambat. Disebabkan tidak adanya bimbingan khusus dari guru saat mulai belajar menulis. Dalam menulis anak kidal cenderung untuk membentuk posisi hook, dimana tangan memutar mengelilingi pena, dan dengan tekanan tinggi, yang akan menyebabkan tulisannya menjadi lambat dan menimbulkan kelelahan. Selain itu tulisan akan menjadi cepat kotor karena akan terhapus oleh jejak tangan. Bantuan yang dapat diberikan adalah bimbingan cara menulis dan alat tulis dan bangku yang cocok untuk anak kidal.2. Mirror writing. Anak kidal menulis terkadang dari kanan ke kiri pada awalnya, sehingga menyebabkan mirror writing. Dapat diatasi dengan memberi tanda merah di sisi kiri kertas sehingga anak diingatkan untuk memulai dari kiri ke kanan. Cara mengkoreksi mixed laterality
- Hopping exercise
Dilakukan dengan melakukan latihan hopping (engklek:Sunda) dengan menggunakan kaki yang seharusnya dominan. Dapat dilakukan 2 kali sehari pada awal terapi selama 2 menit. Kemudian latihan ditingkatkan lama dan durasinya.
- Menghindari menggunakan tungkai yang non dominan sebagai tumpuan saat berdiri maupun duduk.
- Memperbaiki komunikasi antar hemisfer, dengan melakukan latihan gerakan motorik yang memerlukan komunikasi antar hemisfer yang baik dan berkesinambungan. Misalnya dengan melakukan latihan merangkak, hopping exercise bergantian juga termasuk latihan ini.
- Untuk mengoreksi dominansi telinga, disarankan untuk mendengarkan suara yang lembut, mengurangi suasana belajar yang bising. Menurut Jane Ayres, seorang pioneer dalam bidang sensori integrasi, fungsi listening (pendengaran) dapat diperbaiki dengan latihan vestibular (keseimbangan) melalui serangkaian latihan.
KESIMPULAN Telah dibahas referat kecil mengenai handedness dan hubungannya dengan dominansi dan lateralisasi. Banyak hal yang belum benar-benar diketahui mengenai handedness ini, dan kebanyakan masih berupa hasil studi. Handedness sangat penting diperhatikan pada anak dengan gangguan belajar dan kelainan neurologi lainnya sejalan dengan semakin meningkatnya ilmu neurologi perkembangan. DAFTAR PUSTAKA
1. Strien, J.W.V., The Dutch Handedness Questionnaire, in Department of Psychology. 1988, Erasmus University: Rotterdam.
2. Bishop, D.V.M., Handedness and Developmental Disorder. 1990, London: Mac Keith Press.
3. Klar, A.J.S., A 1927 Study Supports a Current Genetic Model for Inheritance of Human Scalp Hair-Whorl Orientation and Hand Use Preference Traits. Genetics, 2005. 170: p. 2027-2030.
4. Szaflarski, J.P., et al., Language lateralization in left handed and ambidextrous people:fMRI data. Neurology, 2002. 59: p. 238-244.
5. (2007) Left-handedness. Volume,
6. Inskip, P.D., et al., Handedness and Risk of Brain Tumors in Adults. Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention, 2003. 12: p. 223-225.
7. Spinney, L., Handedness develops in the womb. New Scientist, 2004.
8. Glover, V., J. Heron, and J. Golding (2004) How A Mother’s Worries Can Affect Her Baby’s Handedness. Antenatal maternal anxiety is linked with atypical handedness in the child. ALSPAC Press Release Volume,
9. Bennett, R., Sexual orientation linked to handedness. Science News, 2000. 158(4): p. 53.
10. Francks, C., et al., Parent-of-origin effect on handedness and schizophrenia susceptibility on chromosome 2p12-q11. Human Molecular Genetics, 2003. 12(24): p. 3225-3230.
11. Katsanis, J. and W.G. Iacono, Association of Left-Handedness with Ventricle Size and Neuropsychological Performance in Schizophrenia. Am J Psychiatry, 1989. 146(8): p. 1056.
12. Faurie, C. and M. Raymond, Handedness: Neutral or adaptive? Behavioral and Brain Sciences, 2003. 26(2): p. 220.
13. Isaacs, K.L., et al., Degree of handedness and cerebral dominance. Neurology, 2006. 66: p. 1855-1858.
14. Knecht, S., et al., Handedness and hemispheric language dominance in healthy humans. Brain, 2000. 123: p. 2512-2518.
15. Cohen, M.S. Edinburgh Handedness Questionnaire. 2004 Feb 27, 2004 [cited 2/2007].
16. Winslow, B. (2001) I’m not Clumsy-I’m Left-handed. Volume,
arif berkata,
November 15, 2007 pada 3:41 am
ga ada komen sih. cuma mau nanya, penulisnya ini siapa, boleh tau gak? thanks